Kesaksian Putri Saudi
Putri Saudi Menghadapi Eksekusi Karena Membaca Alkitab, Lalu YESUS Melakukan Ini… | Kesaksian Kristen
Nama saya Putri Amira. Saya berusia 32 tahun, dan pada tanggal 12 September 2019 saya dijatuhi hukuman mati karena membaca Alkitab di Arab Saudi. Namun Yesus memiliki rencana lain untuk hidup saya. Inilah kesaksian saya tentang pembebasan yang supranatural.
Saya lahir dalam keluarga kerajaan Saudi pada tahun 1992, sebagai putri ketiga dari Pangeran Abdullah bin Rashid. Sejak napas pertama saya, saya dikelilingi kekayaan dan kemewahan yang tak terbayangkan. Istana kami di Riyadh berdiri di atas lahan seluas 50 hektar, dihiasi lantai marmer yang diimpor dari Italia dan lampu gantung yang harganya lebih mahal daripada penghasilan banyak orang seumur hidup.
Saya memiliki sayap istana sendiri dengan 12 kamar, masing-masing dihiasi sutra terbaik dan emas, dengan para pelayan yang siap memenuhi setiap kebutuhan saya.
Namun izinkan saya mengatakan sesuatu tentang sangkar emas: itu tetaplah sangkar.
Meskipun saya memiliki segala sesuatu yang bisa dibeli uang, jiwa saya kelaparan. Saya memiliki ratusan gaun desainer, mengendarai mobil mewah, dan bepergian dengan jet pribadi ke berbagai tempat eksotis. Namun setiap malam saya menatap langit-langit kamar tidur saya yang indah dan bertanya-tanya: Apakah hanya ini arti hidup?
Kekosongan di dalam diri saya semakin besar setiap tahun.
Pendidikan agama saya dimulai ketika saya berusia lima tahun. Setiap pagi saat fajar, guru agama datang untuk mengajar saya menghafal Al-Qur'an. Saya menghabiskan berjam-jam melafalkan ayat-ayat dalam bahasa Arab, dan pada usia 12 tahun saya telah menghafal lebih dari setengah Al-Qur'an.
Shalat lima waktu dijalankan dengan disiplin seperti militer, tetapi saya tidak merasakan apa-apa di dalam hati saya. Kata-kata itu terasa kosong, seperti membaca daftar belanja.
Pikiran saya dipenuhi pertanyaan yang menakutkan:
Mengapa saya merasa begitu jauh dari Allah?
Mengapa doa terasa seperti pengulangan tanpa makna?
Mengapa saya dilarang mempertanyakan apa pun tentang iman kami?
Ketika saya semakin dewasa, tekanan untuk menikah semakin kuat. Orang tua saya mengatur pertemuan dengan berbagai pangeran dan pria kaya, membicarakan masa depan saya seolah-olah saya adalah transaksi bisnis.
Saya merasa seperti hiasan yang indah—berharga karena garis keturunan dan penampilan saya, tetapi tidak berharga sebagai manusia.
Kerinduan akan hubungan yang tulus dan tujuan hidup yang nyata semakin kuat setiap hari. Saya tenggelam dalam kemewahan sementara jiwa saya berseru mencari sesuatu yang benar-benar nyata.
---
Pertemuan Pertama Dengan Alkitab
Pada bulan Maret 2018, ayah saya mengajak saya dalam misi diplomatik ke London. Untuk pertama kalinya saya memiliki kamar sendiri tanpa pengawasan.
Suatu malam saya menemukan sebuah buku kecil berwarna hitam di laci meja samping tempat tidur: Alkitab.
Jantung saya berdebar ketika saya membukanya.
Kalimat pertama yang saya baca adalah:
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
Kata-kata itu menembus hati saya. Saya belum pernah membaca sesuatu seperti itu sebelumnya. Alkitab berbicara tentang kasih, bukan ketakutan. Tentang rahmat, bukan hukuman.
Saya menghabiskan seluruh malam membaca, terpikat oleh kisah-kisah tentang Yesus.
Ketika kami kembali ke Arab Saudi, saya tahu saya harus menyimpan buku itu. Saya menyembunyikannya dengan hati-hati di dalam sebuah buku tafsir Islam lama.
Setiap malam ketika istana sunyi, saya mengambil harta tersembunyi itu dan membaca setiap halamannya.
Kekosongan dalam jiwa saya mulai terisi dengan harapan, kasih, dan tujuan hidup yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.
---
Temuan yang Mengubah Segalanya
Pada tanggal 15 Agustus 2019, dunia saya runtuh.
Sepupu saya, Fatima, berkunjung dan menemukan Alkitab saya.
Ekspresi horor di wajahnya masih menghantui saya.
Dalam beberapa jam, ayah saya menerobos kamar saya bersama paman dan para penasihat agama. Mereka sangat marah.
Mereka menuntut agar saya membakar Alkitab itu dan secara terbuka menyangkal iman saya.
Saya melihat Alkitab itu dan mengingat setiap kata yang berharga di dalamnya.
Saya berkata:
"Saya tidak dapat menyangkal apa yang saya tahu sebagai kebenaran. Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat saya."
Tamparan dari paman saya menjatuhkan saya ke lantai.
Polisi agama datang, melepas jubah kerajaan saya dan memakaikan seragam penjara abu-abu.
Saya bukan lagi Putri Amira.
Saya adalah tahanan nomor 4758, dihukum karena murtad.
Interogasi dimulai segera dan berlangsung 18 jam tanpa henti. Mereka menuntut nama-nama orang lain yang mungkin telah berpindah iman.
---
Vonis Hukuman Mati
Tiga minggu kemudian saya berdiri di hadapan pengadilan Islam.
Hakim membacakan tuduhan terhadap saya:
murtad
penistaan agama
merusak nilai-nilai Islam
Orang tua saya duduk di barisan depan. Ibu saya menutupi wajahnya dengan tangan, ayah saya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
Hakim bertanya:
"Apakah kamu memahami tuduhan ini?"
Saya menjawab:
"Saya memahami tuduhan ini, tetapi saya tidak menganggapnya sebagai kejahatan."
Lalu ia bertanya:
"Apakah kamu menyangkal imanmu kepada Yesus Kristus?"
Ruang sidang menjadi sunyi.
Saya teringat Yesus di kayu salib.
Saya berkata:
"Saya tidak dapat dan tidak akan menyangkal Yesus Kristus. Dia adalah Tuhan dan Juruselamat saya. Saya lebih memilih mati sebagai seorang Kristen daripada hidup dalam kebohongan."
Palu hakim diketuk.
Hukuman: mati dengan pemenggalan kepala pada 12 September 2019.
---
Di Penjara Menunggu Eksekusi
Saya dipindahkan ke sel hukuman mati.
Sel saya kecil, dengan dinding beton lembap. Saya diberi roti basi dan air keruh.
Seorang imam penjara datang setiap hari menawarkan keselamatan jika saya kembali ke Islam.
Setiap kali saya menolak dengan sopan.
Keyakinan saya kepada Kristus semakin kuat.
Tiga hari sebelum eksekusi, ibu saya datang mengunjungi saya. Ia memohon agar saya menyelamatkan diri dengan menyangkal iman saya.
Saya berkata:
"Aku mengasihimu, tetapi aku lebih mengasihi Yesus."
Ia pergi dengan air mata. Ayah saya mengirim pesan bahwa saya telah mati bagi keluarga.
---
Malam Sebelum Eksekusi
Pada malam 11 September 2019, saya berbaring di kasur tipis di sel saya.
Saya tahu pagi harinya saya akan dieksekusi.
Saya berdoa sepanjang malam.
"Yesus, jika Engkau nyata, tolong tunjukkan padaku," saya berbisik.
Tepat pukul 03:33 pagi, sel gelap saya dipenuhi cahaya yang sangat terang.
Saya melihat Yesus berdiri di hadapan saya, mengenakan jubah putih yang bercahaya.
Ia berkata:
"Jangan takut. Aku menyertaimu. Pembebasanmu sudah dekat."
Ia meletakkan tangan-Nya di kepala saya, dan damai sejahtera memenuhi hati saya.
"Engkau akan keluar dari tempat ini. Percayalah sepenuhnya kepada-Ku."
---
Pembebasan yang Mustahil
Dalam waktu satu jam, hal yang mustahil mulai terjadi.
Saya mendengar pintu sel saya terbuka.
Saya berjalan ke lorong, tetapi tidak ada alarm.
Semua penjaga tertidur sangat lelap—seolah-olah dalam tidur supranatural.
Saya berjalan melewati pintu-pintu terkunci yang terbuka ketika saya mendekat.
Ketika saya mencapai pintu keluar utama, pintu besar itu terbuka.
Saya keluar ke udara dingin menjelang fajar di Riyadh.
Saya adalah wanita bebas—beberapa jam sebelum eksekusi.
Sebuah taksi muncul seolah-olah ditentukan oleh Tuhan.
Sopir tidak bertanya apa pun ketika saya meminta diantar ke bandara.
Paspor kerajaan saya lolos pemeriksaan di setiap pos pemeriksaan.
Saya naik pesawat menuju Amsterdam, dengan air mata mengalir di wajah saya.
Ketika pesawat mendarat, saya berlutut di tanah asing dan menangis karena sukacita.
---
Hidup Baru
Tiga bulan kemudian saya dibaptis di Amsterdam, menyatakan iman saya kepada Yesus secara terbuka.
Ketika saya keluar dari air baptisan, saya merasa dilahirkan kembali sebagai putri dari Raja segala raja.
Sekarang saya membagikan kesaksian saya di seluruh Eropa.
Saya juga bekerja dengan jaringan bawah tanah untuk membantu orang-orang Kristen yang dianiaya melarikan diri dari negara-negara Islam.
Pada tahun 2022, saya menikah dengan David, seorang misionaris Belanda.
Bersama-sama kami melanjutkan pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada kami.
---
Pesan untuk Anda
Saat ini, di mana pun Anda mendengar kesaksian ini, Yesus sedang memanggil nama Anda.
Apa arti Yesus bagi Anda?
Apakah Dia layak mendapatkan:
kenyamanan Anda
reputasi Anda
bahkan seluruh hidup Anda?
Setiap napas yang saya ambil adalah mukjizat.
Jangan pernah meremehkan kuasa Juruselamat kita.
Jika Tuhan dapat membebaskan seorang putri Saudi dari hukuman mati, Dia juga dapat menolong Anda dalam situasi apa pun yang tampaknya mustahil.
Yesus masih melakukan mukjizat — dan mungkin Anda berikutnya.
---
Komentar
Posting Komentar